Ini adalah kisah yang ingin saya ceritakan ketika saya sedang berkunjung ke Banyumas dalam rangka membantu teman-teman saya anak Institut Seni Indonesia, Solo untuk PKL dan kolaborasi dengan beberapa warga Jepang. Cerita ini berawal ketika saya yang seorang mahsiswa ilmu komunikasi, ditawari untuk menari. Menari ? dalam benak saya terlintas betapa sulitnya harus belajar gerakan gerakan tari tradisi, yang kebetulan saya kebagian nari “watang”. Yaitu menari dengan tongkat,layaknya seorang prajurit kerajaan, padahal badanku gak gagah juga.
Di satu sisi, rasa berat untuk meng-iyakan karena saya sama sekali tidak mempunyai yang namanya dasar ataupun bakat menari. Di sisi lain saya punya minat yang besar untuk mempelajari budaya sendiri, dalam hal ini adalah menari tradisi. Pada waktu yang latihan pun saya merasakan bagaimana rasanya badan di engkuk engkuk agar mendapatkan posisi tubuh yang benar, apalagi yang namanya tanjak, ampun bosss, susahnya minta ampun.