Pada 6 Mei kemarin, saya mendapatkan tugas untuk merekam pertunjukan tari Lengger Calung pacar saya. Biasalah, seorang calon suami siaga yang musti stand by buat belahan hati... hehehee... Dalam hati saya terbersit, wah bakalan dapet traktiran nih, khan pentas biasanya dapet duit. Ternyata, pada pertunjukan kali ini ndak ada duitnya. Yah, ndak papa lah wong namanya juga sambatan (gotong royong alias kerja bakti), kerja bakti dalam rangka nguri-uri kabudayan.
Ada hal yang membuat saya tertarik disini, selain adanya pacar saya tentunya. Pertunjukan yang diadakan di Pendapa Alit Kelurahan Jebres ini ternyata merupakan sebuah rutinitas yang diselenggarakan setiap tanggal 6. Kebetulan pada bulan Maret ini, kelompok Pring Sedapur pimpinan Pak Darno mendapat kesempatan untuk tampil dalam agenda rutin bulanan Kelurahan Jebres, Surakarta.
Dalam pidatonya, Pak Lurah menjelaskan bahwa ini merupakan agenda rutin sebagai pelestarian dan bentuk kecintaan terhadap Budaya Jawa. Ditegaskan pula oleh Pak Lurah, bahwa sebenaarnya budaya Jawa itu bukan hanya seperti yang kebanyakan diartikan sebagai yang ada di Solo dan Jogja, melainkan seluruh kebudayaan yang ada di sepanjang pulau Jawa, mulai dari Banten sampai ujung Blambangan atau Banyuwangi. Hal ini mengngatkan saya pada Organisasi Budi Utomo yang berdiri sebagai organisasi kepemudaan dengan daerah yang berbasis budaya Jawa, dimana Bali termasuk didalamnya (kalo gak salah sih). Pada Kesempatan kali ini, Pak Lurah juga mengungkapkan bahwa pertunjukan bulan ini adalah prakarsa dari warga RW 28.
Dalam pertunjukan kali ini dipandu 3 orang MC yang luar biasa(maaf) Koplak alias gila gilaan yang bisa membawa suasana menjadi ceria. Adapun repertoar tari yang dibawakan oleh grup Pring Sedapur ini antara lain adalah Gambyong Eling-Eling, Senggol-Senggolan dan Marungan. Yang membuat saya kagum adalah masih ada instansi tingkat kelurahan yang mau menyelenggarakan kegiatan seperti ini, dan yang bikin saya semakin kagum adalah para penyaji yang bersedia pentas tanpa bayaran. Mengingat saat ini banyak seniman seniman yang males manggung kalo ndak dibayar. Kesanggupan grup Lengger Calung Pring Sedapur dalam mendukung kegiatan ini patut diacungi jempol, karena mereka mau untuk menjadi pelestari budaya yang gratisan meski sering pula mereka manggung di tempat yang wah dengan bayaran yang wah juga.
Sepulangnya dari kantor kelurahan, masih terngiang ditelinga saya suara calung yang mengalun indah. Calung merupakan warisan budaya bangsa kita yang merupakan alat musik khas Banyumas, dimana calung merupakan aset budaya yang harus kita jaga dan dilestarikan. Saya kok ndak tau apakah calung sudah dipatenkan negara lain atau belum, soalnya biasanya orang Indonesia itu punya rasa handarbeni atau memiliki kalau sudah di rebut orang.
Esok paginya, saya dapet sms perintah ndak lain dari pacar saya untuk beli koran, katanya wajahnya masuk koran lokal Solo. Saya punya beberapa rekaman video lengger calung Banyumas hasil rekaman saya yang hasilnya memang ndak bagus, buat anda yang berminat bisa hubungi saya, gratis kok, sekedar berbagi untuk orang orang yang berminat pada budaya negri sendiri. Mbok suwer di samber gledek bareng bareng.
Related :

Posting Komentar