Ini adalah kisah yang ingin saya ceritakan ketika saya sedang berkunjung ke Banyumas dalam rangka membantu teman-teman saya anak Institut Seni Indonesia, Solo untuk PKL dan kolaborasi dengan beberapa warga Jepang. Cerita ini berawal ketika saya yang seorang mahsiswa ilmu komunikasi, ditawari untuk menari. Menari ? dalam benak saya terlintas betapa sulitnya harus belajar gerakan gerakan tari tradisi, yang kebetulan saya kebagian nari “watang”. Yaitu menari dengan tongkat,layaknya seorang prajurit kerajaan, padahal badanku gak gagah juga.
Di satu sisi, rasa berat untuk meng-iyakan karena saya sama sekali tidak mempunyai yang namanya dasar ataupun bakat menari. Di sisi lain saya punya minat yang besar untuk mempelajari budaya sendiri, dalam hal ini adalah menari tradisi. Pada waktu yang latihan pun saya merasakan bagaimana rasanya badan di engkuk engkuk agar mendapatkan posisi tubuh yang benar, apalagi yang namanya tanjak, ampun bosss, susahnya minta ampun.
Ketika saya berada di Banyumas, tepat pada acara gladi bersih untuk pementasan. Saya sempat cangkrukan dengan bapak bapak pegawai kecamatan Banyumas. Mereka kagum melihat kami, anak anak muda yang mau mempelajari dan melestarikan budaya sendiri. Tapi,mereka juga mengeluhkan betapa sebagian besar anak muda saat ini tidak mau menyentuh buadaya kesenian mereka sendiri, saya kira hal tersebut tidak hanya terjadi di Banyumas. Melainkan juga di daerah lain. Sungguh menyakitkan bukan ? menurut mas DidikNini Thowok yang kebetulan juga ikut tampilpada acara tersebut, tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada kaum muda, apabila saat kecil sudah dikenalkan budaya sendiri dan membuat mmencintai budaya sendiri pasti budaya kita sendiri tidak akan lenyap. Menurut saya, adapun terjadinya anakmuda enggan mengenal senibudaya bangsanya,adalah tidak terlepas dari mediamassa yang enggan menampilkan budaya bangsa ini. Memang film film dan berbagai sinetron akan lebih banyak mendatangkan untung, tapi apakah harus membuang senibudaya milik sendiri.meski ada yang menampilkan acara bernuansa seni budaya daerah, namun itu diputar pada malam hari jadi siapa yang mau nonton?
Di hari tersebut, yang membuat saya terkejut adalah beberapawarga Jepang yang mampu menarikan tarian Banyumasan dengan luar biasa bagus, tidak kalah dengan penari local (saya berani bertaruh kalo kurang dari separuh orang di Banyumas mampu menari sebagus dia), selain itu tukang kendangnya juga berasal dari Jepang, wiyaga berasal dari Amerika. Yang membuat saya lebih terkagum, ternyata di Jepang sudah ada kelompok penari Banyumasan yang semuaannya orang Jepang. Yang membuat saya lebih terkejut adalah mereka belajar di ISI Solo, menggunakan uang mereka sendiri. Bagaimana dengan kita ? Namun saya masih salut denagn adanya sanggar sanggar tari yang nantinya akan melahirkan para pelestari budaya. Namun, sekali lagi apakah kelak mereka masih mempunyai rasa handarbeni atau memiliki budaya sediri.
Meski pada akhirnya saya tidak jadi menari pada malam harinya karena terjadi perubahan format dan menjadi tukang shoting. Namun saya bangga bisa mempelajari gerakan tari tersebut.
Related :

Posting Komentar