Kembung Masuk Angin Nonton Wayang Orang


Wayang orangku, budayaku, kebanggaanku…..
Siapa lagi kalau bukan aku yang melestarikannya”
 
Begitulah tulisan yang ada di bagian belakang brosur pertunjukan wayang orang yang saya tonton pada malam 18 april 2008 di Teater Besar ISI Surakarta yang di persembahkan oleh Griya Budaya Titah Nareswari Surakarta. Pada pertunjukan kali ini mereka mengetengahkan lako Cipta Weninging Driya, yang mengisahkan pertapaan Arjuna sang lelalanging jagat guna mencapai wahyu sejati dari pencipta jagad raya saat bertapa di Indrakila. Jelasnya, dia tentu saja berhasil menuntaskan tapa bratanya karena dia memang seorang satria utama. Dalam cerita itu dikisahkan dia dianugerahi gendewa dari Bhatara Indra dan panah Pasopati dari Bhatara Guru serta mendapatkanSupraba sebagai istrinya. Namun sebelum mendapatkan semua itu tentu saja banyak godaan yang berat seperti godaan para Bidadari, bahkan dari bayangan istrinya yang hendak membunuh Abimanyu anaknya.


Pada pertunjukan yang diawali dengan adegan perang Bhatara Indra CS melawan para Yaksa ini, banyak sekali piwulang urip dan bisa didapatkan, terutama piwulang Bhatara Guru kepada Arjuna setelah gelut , padhu, perang sama si Keratarupa. Disinilah piwulang yang barang sekali sedikit saya dapat karena memang saya kurang pandai dalam menterjemahkan bahasa pewayangan yang notabenenya berbeda dengan bahasa keseharian saya. Saat manusia berkehendak, memang manusia akan berusaha untuk mendapatkannya. Entah itu dengan laku prihatin atau lelaku yang lain, namun kadang setelah Berjaya, manusia menjadi lupa dan menjadi adigung adigunana, sak-sak’e dalam bertindak dan sombong dengan status yang melekat pada dirinya. Disinilah pitutur yang disampaikan agar manusia tidak lupa pada hakikat diri sendiri dan tidak berlaku sombong. Ini menjadikan saya semangkin malu kalo lihat diri saya, bagus ndak seperti Arjuna, kelakuan juga sering gak beresnya kok ndak ada rendah hatinya.

Pada hakikatnya, kalo kita mau menelusuri kebudayaan bangsa kita, terutama seni pertunjukan wayang, baik itu wayang kulit atau wayang orang. Banyak sekali piwulang urip yang bermanfaat bagi kehidupan lita. Baik untuk srawung atau bergaul dengan orang lain atau juga untuk menjadikan diri kita menjadi sosok bermutu meski ndak sampek jad Satria Utama seperti tokoh tokoh pewayangan. Kerendahan hati dan keluhuran budi mutlak diperlukan untuk mencapai keutamaan dalam hidup, dan itu memang ndak bisa lepas sebagi syarat untuk mecapai keutamaan hidup. Sosok pemimpin yang mengayomi, rakyat yang mengabdi pada Negara (kalo saat ini dapat diartikan nasionalisme dan menjadi warga Negara yang baik) bisa kita temui dalam kesenian wayang wong ini. Memang itu hanya cerita, namun kenapa kita tidak mencoba dalam kehidupan nyata yang katanya hidup ini adalah panggung sandiwara.

Diluar isi piwulang urip tersebut, saya tertarik dengan penyajian wayang wong yang menurut saya berbeda dengan wayang orang bisanya dan penuh dengan kreasi baru dalam penyajiannya, memang kalau dilihat dari sisi skenografi pertunjukan seperti di Teater Taah Airku di TMII, ini ndak mewah mewah banget, tapi sangat bikin saya terkesan. Wong yang maen itu para maestro tari atau kalo dalam Capoeira itu Maestre, gimana nggak nggumun yang maen itu banyak dari dosen ISI Surakarta. Jujur saja saya pada awalnya males berangkat karena kembung masuk angin, tapi berhubung mendampingi pacar saya yang dapet tugas kuliah Kritik Seni untuk lihat pertunjukan ini ya akhirnya saya berangkat. Tapi setelah saya nonton, kok jadi kepincut sungguhan dan saya menadi berhrap bias nonton pertunjukan seperti itu lagi. Masuk anginpun akhirnya jadi gak kerasa.

Related :

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © Blog e Mas Dhika. Blogger Templates Designed by OddThemes